Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Bayang Suram Pelangi: Membaca Arafat Nur Hari Ini

Gambar
  Oleh : Serayu G Ruhani   Ada satu hal yang jarang dibahas ketika orang membicarakan sastra tentang perang: bagaimana nada bicara para tokohnya berubah setelah bertahun-tahun hidup di bawah kekerasan yang tidak kunjung usai. Orang cenderung membayangkan korban perang berbicara dengan nada duka, atau amarah yang meledak-ledak. Namun, yang justru ditemukan dalam novel-novel Arafat Nur, dari Lampuki hingga Bayang Suram Pelangi, adalah sesuatu yang lebih pelan dan lebih berbahaya: sinisme.   Mencoba membedah Bayang Suram Pelangi secara khusus, kita bisa menemukan banyaknya jenis makna kontekstual, makna-makna konseptual, makna konotatif, makna kolokatif, makna afektif, makna sosial, dan makna tematik yang seluruhnya berpusar pada gaya sinis. Temuan ini mengonfirmasi bahwa nada getir bukan bumbu sesekali dalam novel ini, melainkan cara berpikir yang menyusup ke hampir setiap lapis bahasanya. Untuk memahami dari mana sinisme ini datang, dan mengapa ia terus berulang ...