Apakah Filsafat dan Bahasa Bisa Bertemu?

source by Republika 
ditulis oleh Cahyo Saputro di Yogyakarta pada tanggal 19 Mei 2024

Filsafat tidak bisa dilepaskan dengan bahasa. Bahasa sendiri diartikan sebagai sebuah sistem simbol yang bersifat arbitrer dan konvensional. Bahasa juga diartikan sebagai alat untuk berkomunikasi. Dimensi pengetahuan dalam bahasa menghadirkan pemahaman tentang pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang timbul. Bahasa menjadi salah satu kunci dalam pemahaman manusia, tetapi bahasa mempunyai satu kelemahan, yaitu bahasa tidak bisa mendefinisikan segala sesuatunya dengan rasional yang dikuatkan oleh dalih bahwa bahasa bisa dianggap tidak efektif karena pengguna bahasa sering kali memiliki kecenderungan emosional dan tidak terarah. Sementara itu, menurut Asep Ahmad Hidayat, filsafat merupakan "sebuah ilmu dan sebuah metode dalam berpikir". Pengertian filsafat bisa ditinjau dari dua sudut, yaitu sebagai sebuah ilmu dan sebagai sebuah metode.

Filsafat sebagai sebuah ilmu diartikan sebagai hasil pemikiran para filsuf yang mempunyai objek yang jelas, disusun secara sistematis dengan menggunakan metode yang disepakati. Objek yang jelas berupa "yang ada" atau "kewujudan" atau diartikan berupa sesuatu yang diyakini adanya seperti Tuhan, alam semesta dan seisinya, manusia dan segala relasi dengan eksistensi manusia. Filsafat sebagai sebuah metode diartikan sebagai metode berpikir secara logis (masuk akal), mendalam (radikal), dan bersifat universal mengenai segala sesuatu yang ada.

Maka, pada abad ke-20 muncul istilah filsafat bahasa. Filsafat bahasa bisa diuraikan atau dimaknai sebagai filsafat mengenai bahasa dan filsafat berdasarkan bahasa (Verhaar, 1988). Adapun filsafat bahasa menurut Rizal Mustansyir adalah suatu penyelidikan secara mendalam terhadap bahasa yang dipergunakan dalam filsafat, sehingga dapat dibedakan pernyataan filsafat yang mengandung makna (meaningfull) dengan yang tidak bermakna (meaningless). Filsafat bahasa juga bisa dilihat melalui dua sudut pandang sebagaimana dalam mendefinisikan filsafat, yaitu sebagai berikut:
1. Filsafat bahasa sebagai sebuah ilmu adalah kumpulan hasil pikiran para filsuf mengenai hakikat bahasa yang disusun secara sistematis untuk dipelajari dengan metode tertentu.
2. Filsafat bahasa sebagai sebuah metode berpikir dapat diartikan sebagai metode berpikir secara mendalam, masuk akal, dan universal mengenai hakikat bahasa.

Filsafat menjadikan bahasa sebagai objek atau alat untuk mencari kebenaran. Sebagaimana para filsuf bergantung kepada bahasa untuk mengungkapkan pikiran dan hasil-hasil perenungan filsufis. Louis O. Katsoof (1986) berpendapat bahwa suatu sistem filsafat sebenarnya dalam arti tertentu dapat dipandang sebagai suatu bahasa dan perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai suatu upaya penyusunan bahasa tersebut. Oleh karena itu, filsafat dan bahasa mempunyai hubungan kausalitas (sebab dan akibat).

Pembahasan mengenai sejarah, ruang lingkup, dan korelasi antara filsafat dengan bahasa tidak hanya sebatas pada beberapa pernyataan yang telah dipaparkan. Masih ada banyak sekali teori yang perlu dikaji lebih lanjut guna mendukung pengembangan artikel. Jadi, apa kalian tertarik tentang filsafat dan bahasa?

Daftar Pustaka

HA Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda. Bandung: Pustaka Rahmat.
Kattsof, Louis O. 1986. Pengantar filsafat, alih bahasa Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Mustansyir, Rizal. 1988. Filsafat Bahasa. Jakarta: Prima Karya.
Verhaar, "Filsafat yang Mengelak", h. 8, dalam Rizal Mustansyir, Filsafat Bahasa, Jakarta: Prima Karya, 1988, cet. ke-1, h. 46.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TBM Harapan Jogja: Pengembangan Literasi Lewat Praktik Menulis

Mengambil yang Dekat, Mengenal yang Jauh

Diskusi Sastra: Menilik Realita dan Imaji