Menghadirkan Unsur Batin dalam Puisi

ditulis oleh Cahyo Saputro

“Sejarah peradaban mengajarkan kepada kita bahwa zaman membuat doktrin sastra jarang berasal dari satu jenius saja.”

(Sastra Bandingan, kutipan narasi Suwardi Endraswara)

PUISI sebagai salah satu karya sastra kerap dinikmati dan sering dibandingkan antara puisi satu dengan puisi lainnya. Pembandingan puisi atau bisa disebut sebagai kajian sastra bandingan dapat diperoleh atas unsur-unsur pembentuknya, yaitu unsur fisik dan unsur batin. Sebagaimana unsur fisik di mana suatu hal yang nampak dan tampak tanpa perlu memasukinya lebih dalam, seperti tipografi, majas, diksi, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan unsur batin? Unsur batin merupakan sebuah unsur yang dapat diperoleh apabila pembaca mengalami proses penafsiran lebih lanjut dengan sengaja atau tanpa sengaja dengan memosisikan dirinya sebagaimana rupa. Unsur batin, bisa dikategorikan menjadi tiga, yaitu rasa, nada dan suasana, serta amanat.

Pertama, rasa dalam sebuah puisi selalu mempunyai perbedaan sesuai dengan keinginan si penulis dan kepiawaiannya dalam merangkai sebuah puisi, melewati lorong kata jua lautan imajinasi. Kedua, nada dan suasana merupakan output atau keluaran dari hasil puisi yang telah ditulis oleh si penulis jua merupakan aspek dengan multimakna karena bisa saja nada dan suasana yang dihasilkan antara si pembaca dan si penulis berbeda. Ketiga, amanat merupakan pesan yang terkandung dalam sebuah teks (dalam hal ini puisi) yang ingin disampaikan oleh si penulis melalui karyanya. Ketiga hal ini menjadi keterkaitan tersendiri apabila pembaca ingin dan mau menjelajahi satu rumah puisi pun hal ini jelas pula dapat menjadi pembanding sebab setiap puisi mempunyai banyak sembarang pesan, walaupun mungkin terkesan sama dalam inti pesannya. Kemudian bagaimana contoh sederhana dalam membandingkan dua puisi atau lebih menggunakan unsur batin? Mari simak dua puisi berikut ini:

Daun

Karya Soni Farid Maulana


siapa yang tak hanyut

oleh guguran daun: ketika angin

mempermainkannya di udara terbuka

ketika lembar demi lembar cahaya matahari


menyentuh miring dengan amat lembutnya

siapa yang tak hanyut oleh guguran daun

ketika maut begitu perkasa

mencabut usia hingga akarnya, ketika matahari


menarik tirai senja, ketika keheningan

menyungkup batu-batu di dada. Siapa

yang tak hanyut oleh guguran daun: ketika


lobang kuburan ditutup perlahan, ketika

doa-doa dipanjatkan dengan suara tersekat

ketika kutahu pasti kau tak di sampingku


1980 

Sumber: Selepas Kata (2004)



Saat Sebelum Berangkat

Karya Sapardi Djoko Damono


mengapa kita masih juga bercakap

hari hampir gelap

menyekap beribu kata di antara karangan bunga

di ruang semakin maya, dunia purnama


sampai tak ada yang sempat bertanya

mengapa musim tiba-tiba reda

kita di mana. waktu seorang bertahan di sini

di luar para pengiring jenazah menanti.


1967

Sumber: Hujan Bulan Juni (1994)

 

Perlu diingat, ini hanya sebuah analisis singkat, sederhana, dengan melibatkan unsur batin tanpa kehadiran unsur fisik yang mendetail. Pertama, mari kita lihat tentang rasa yang dihasilkan dari kedua puisi terkait (puisi "Daun" karya Soni Farid Maulana dan puisi "Saat Sebelum Berangkat" karya Sapardi Djoko Damono). Pada puisi "Daun" karya Soni Farid Maulana, puisinya mempunyai rasa yang lembut, tenang, damai, pilu, dan haru. Hal ini dikarenakan tatanan diksi dan penggunaan majas yang apik dalam perwujudan rasa. Sebagaimana dalam kutipan puisinya pada bait kedua, larik kedua hingga larik ke empat yang berbunyi:

/siapa yang tak hanyut oleh guguran daun//ketika maut begitu perkasa//mencabut usia hingga akarnya//


Puisi kedua yang berjudul "Saat Sebelum Berangkat" karya Sapardi Djoko Damono mempunyai rasa cemas, gundah, samar-samar, dan tidak pasti. Hal ini dikarenakan tatanan kalimat dengan pertanyaan retoris yang dominan dalam puisi tersebut. Sebagai dalam kutipan puisinya pada bait pertama larik pertama:

/mengapa kita masih juga bercakap//


Selanjutnya, bisa dimulai dari unsur nada dan suasana. Pada puisi pertama, nada yang dihasilkan berupa suara sendu yang lirih akibat kepasrahan terhadap kehilangan dan menghasilkan suasana yang tenang, sepi dalam perpisahan yang abadi. Sebagaimana dalam kutipan puisinya pada bait keempat larik terakhir:

/ketika kutahu pasti kau tak di sampingku//


Pada puisi kedua, nada yang dihasilkan berupa penekanan dalam konteks keheranan terhadap penyikapan sebelum kematian yang akhirnya menimbulkan suasana ketidakpastian hidup manusia dalam menyikapi kematian yang belum terjadi. Hal ini menimbulkan efek atau dorongan untuk merenungi sesuatu sebagai penyikapan terhadap kesiapan manusia terhadap kematiannya. Sebagaimana dalam kutipan puisinya pada bait kedua larik pertama hingga ketiga yang berbunyi:

 /sampai tak ada yang sempat bertanya/

/mengapa musim tiba-tiba reda/

/kita di mana//.


Amanat pada puisi pertama berupa penerimaan dan kerendahan hati di hadapan takdir, sehingga manusia bisa menemui ajalnya dengan ikhlas dan tenang. Mengajarkan manusia untuk berpikir bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini bahkan dirinya sendiri. Amanat pada puisi kedua berupa dorongan untuk merenungi hal-hal kecil sebelum kematian itu tiba dan mengajarkan manusia untuk mengurangi hal-hal yang tidak perlu sebelum akhirnya menyesal dalam kebingungan dan ketidakpastiannya sendiri.

Terlepas dari analisis singkat dan sederhana di atas, bisa kita tarik kesimpulan, bahwa pemahaman suatu konteks tidak akan lepas dari teks dan koteks. Hal ini juga bisa menjadi bukti, walaupun analisis ini hanya berupa unsur batin, tetapi masih memerlukan unsur fisik sebagai landasan dalam menghasilkan unsur batin itu sendiri. Oh, betapa indahnya saling merangkul untuk melengkapi.

Yogyakarta, 19 Agustus 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TBM Harapan Jogja: Pengembangan Literasi Lewat Praktik Menulis

Mengambil yang Dekat, Mengenal yang Jauh

Diskusi Sastra: Menilik Realita dan Imaji