Bulan, Halaman Rumah, dan Surat yang Tak Sampai



Oleh : Aryasuta


Ketika bulan jatuh ke halaman rumahku, hal pertama yang kulakukan adalah memastikan pagar sudah tertutup rapat.


Aku tidak tahu apa aturan hukum di dunia ini mengenai benda langit yang mendadak runtuh ke properti pribadi. Apakah pemerintah akan menyitanya? Apakah tetangga akan menuntutku karena distorsi gravitasi berskala kecil? Atau lebih buruk lagi, apakah wartawan akan mengetuk pintuku sebelum aku sempat menyeduh kopi? Maka, aku berjalan ke pintu depan dengan langkah seringan kucing, memutar kunci gembok pagar besi, dan memastikan rantainya terpasang ganda.


Setelah itu, aku kembali ke dapur. Aku mengambil sandal, karena rumput di ambang pagi sungguh dingin. Dan, aku tak mau harus menemaninya sambil berpeluk dingin. Aku juga mengenakan sweater wol longgar berwarna abu-abu yang lengannya sudah sedikit melar. Jika kau harus menghadapi krisis kosmologis di halaman rumahmu, setidaknya pastikan tubuhmu tetap hangat.


Aku melangkah keluar melalui pintu kaca geser ke halaman belakang. Angin pagi berembus, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa embun yang mulai menebal.


Dia tetap di sana.


Layaknya bulan, dia tetap memantulkan cahaya. Meskipun, tak seterang pantulan cahaya matahari, tapi cahaya dari pohon natal seberang rumah sudah cukup untuk membangunkan kucing di atas pohon. Kucing itu—seekor kucing belang tiga tanpa nama yang sering berkeliaran di sekitar sini—menatap ke bawah dari dahan pohon jambu dengan mata bulat yang memantulkan pendar perak. Ia tampak bingung. Mungkin karena jadwal biologisnya baru saja diacak-acak oleh anomali astronomi.


Aku menghampirinya perlahan sambil memikirkan apa yang harus kuucapkan. Karena aku tak tahu kata apa yang bisa menyinggung bulan. Mungkin saja, sebuah pernyataan tentang begitu terangnya dia hari ini bisa menyinggungnya. Bulan, setahuku dari beberapa buku yang pernah kubaca di perpustakaan kota, memiliki harga diri yang rapuh. Mereka menghabiskan miliaran tahun sendirian di ruang hampa, memantulkan cahaya milik orang lain. Pujian yang salah bisa terdengar seperti ejekan yang sarkastis.


“Selamat pagi,” kataku akhirnya, berdiri sekitar dua langkah dari permukaannya yang berlekuk-lekuk.


Bulan tidak menjawab. Namun, aku bisa merasakan getaran rendah yang keluar dari tubuhnya, mirip seperti dengung kompresor kulkas tua di dapur yang sepi. Permukaannya tidak sehalus marmer, rasanya lebih seperti kombinasi antara batu apung kering dan keju basi yang mengeras. Ada aroma aneh yang menguar darinya. Campuran antara bau besi berkarat, debu ruangan yang lama tak dibuka, dan sesuatu yang samar-samar mengingatkanku pada bau air laut di malam hari.


“Kau membuat kembang bokorku agak penyet,” tambahku, menunjuk ke bawah sisinya yang melengkung. “Tapi tidak apa-apa. Mereka toh akan layu musim gugur nanti.”


Aku duduk bersila di atas rumput, mengabaikan fakta bahwa ujung celanaku mulai basah oleh embun. Di atas kepala kami, langit tampak aneh. Hitam pekat, lowong, layaknya kanvas yang bagian tengahnya digunting dengan kasar. Di sudut kiri atas, sebuah bintang kecil berkedip-kedip dengan ritme yang panik.


Itu adalah bintangku.


Sudah hampir tiga tahun aku menjalin komunikasi dengannya. Tentu saja, itu bukan hubungan dua arah yang normal seperti berkirim pesan melalui ponsel. Caranya bekerja jauh lebih analog dan rumit. Setiap malam, sebelum tidur, aku akan duduk di ambang jendela, menatap bulan, dan membisikkan pesan-pesanku. Aku menceritakan hal-hal yang tidak penting: tentang bagaimana roti tawar di toko dekat stasiun rasanya makin hambar, tentang potongan rambutku yang gagal, atau tentang rasa sepi yang tiba-tiba muncul dan membuat dunia di sekitarku mengambang.


Bulan berfungsi sebagai kantor pos. Ia menangkap gelombang suaraku, menyimpannya di dalam kawah-kawahnya yang dalam, lalu memantulkannya kembali ke arah bintang kecil itu ketika rotasinya berada di posisi yang tepat. Itu adalah sistem yang andal. Sampai malam ini.


“Kenapa kau turun?” tanyaku pada bulan, suaraku nyaris berupa bisikan. “Apakah surat-suratku terlalu berat untukmu?”


Dengungan bulan bergeser satu oktav lebih rendah. Cahayanya sedikit meredup, lalu kembali terang. Aku memperhatikannya lebih dekat. Di salah satu kawah terbesarnya, yang biasanya terlihat seperti mata dari bumi, aku melihat sesuatu yang berkilau. Itu bukan es batu atau kristal ruang angkasa. Itu adalah gumpalan cahaya berbentuk siluet kata-kata.

Surat-suratku. Semuanya menumpuk di sana, menyumbat jalurnya. Mereka tidak pernah terkirim.


“Jadi,” kataku, merasakan ada sesuatu yang dingin mengalir di rongga dadaku, “dia tidak pernah menerimanya?”


Bulan bergulir beberapa sentimeter ke kanan, menghancurkan satu lagi batang kembang bokor. Itu tampaknya adalah caranya mengucapkan maaf.


Aku menyandarkan punggungku ke permukaan bulan yang dingin, tapi entah bagaimana terasa aman. Melalui sweter wolku, rasa dingin itu merembes perlahan, menembus kulit dan menyentuh tulang-tulangku. Anehnya, itu tidak membuatku menggigil. Rasanya justru menenangkan, seperti menemukan seseorang yang memiliki tingkat kesepian yang sama persis denganmu di dalam sebuah gerbong KRL yang kosong.


Di atas sana, bintang kecil itu masih berkedip. Tanpa bantuan bulan, cahayanya terasa begitu jauh, begitu terisolasi. Aku menyadari satu hal: bintang itu tidak pernah membalas pesanku bukan karena ia tidak mau, melainkan karena ia tidak pernah tahu aku ada di sini, membisikkan namanya setiap malam dari sebuah planet biru yang berdebu.


“Kau tahu,” kataku pada bulan sambil menatap lurus ke depan, ke arah pagar rumahku yang terkunci rapat. “Menjadi perantara itu pasti melelahkan. Menyimpan rahasia orang lain, membawa beban rindu yang bukan milikmu, sementara kau sendiri tidak memiliki siapa pun untuk diajak bicara.”


Bulan diam. Kucing di atas pohon jambu kini telah turun. Dengan langkah-langkah anggun yang penuh perhitungan, ia mendekati kami, mengendus pinggiran bulan yang tertutup debu kosmik, lalu dengan santai melompat ke atasnya. Kucing itu melingkarkan tubuhnya di salah satu lekukan kawah, mendengkur pelan, lalu memejamkan mata. Tampaknya, bagi seekor kucing, bulan yang jatuh ke halaman rumah tidak lebih dari sekadar tempat tidur baru yang sedikit lebih hangat daripada dahan pohon.


Kami bertiga berada di sana, terjebak dalam sebuah fragmen waktu yang menolak untuk bergerak maju. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 4.30 pagi. Langit di ufuk timur mulai berubah warna menjadi biru tua yang keabu-abuan. Waktu kami tidak banyak. Jika matahari terbit, rahasia ini akan lenyap, atau diubah menjadi sesuatu yang logis oleh dunia yang kaku.


“Kau harus kembali,” kataku perlahan. Aku berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celanaku yang lembap. Kucing itu membuka satu matanya, tampak sedikit terganggu karena posisinya bergeser.


Aku meletakkan kedua telapak tanganku di atas permukaan bulan. Aku memikirkan semua kata yang pernah kukirimkan lewat dia. Kata-kata penuh harapan, kesedihan, dan keraguan yang tak sempat sampai ke tujuannya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendorongnya.


Awalnya tidak terjadi apa-apa. Bulan terasa seperti batu gunung yang mustahil dipindahkan. Namun, ketika aku memikirkan bintang kecil di atas sana yang mungkin sedang kebingungan mencari pemantul cahayanya, aku mendorong sekali lagi dengan seluruh sisa tenaga yang kumiliki di ambang pagi yang dingin ini.


Bulan mulai terasa ringan. Ia kehilangan massanya, seolah gravitasi bumi mendadak kehilangan cengkeramannya pada benda itu. Ia terangkat beberapa sentimeter dari rumput. Kucing belang tiga itu melompat turun dengan terkejut, mendarat dengan mulus di dekat sepasang sandalku.


Tanpa suara, bulan melayang naik. Mula-mula melewati atap rumahku, lalu melewati dahan tertinggi pohon jambu melewati kabel-kabel listrik yang melintang di jalanan, hingga akhirnya ia kembali ke tempatnya yang semula. Sebuah lubang kosong di langit yang kini telah terisi kembali.


Aku berdiri di halaman belakang selama beberapa menit, mengawasi sosoknya yang perlahan mengecil dan kembali menjadi lingkaran perak yang sempurna. Sumbatan di kawahnya tampaknya telah bersih; debu-debu suratku mungkin telah luruh menjadi meteor-meteor kecil yang terbakar habis di atmosfer.


Ketika aku melihat ke arah bintang kecil itu, ia berkedip sekali. Panjang dan lambat. Mungkin itu caranya mengucapkan terima kasih.


Aku mengembuskan napas, melihat uap putih tipis keluar dari mulutku lalu menghilang di udara pagi. Aku berbalik, berjalan masuk ke dalam rumah melalui pintu kaca geser, dan melepas sandalku yang basah. Di dapur, aku mulai menyalakan kompor untuk menjerang air.


Hari ini adalah hari biasa yang lain, dengan rutinitas yang sama dan dunia yang terus berputar. Namun, saat aku memandangi cangkir kopiku yang kosong, aku tahu, kesunyian di dalam dadaku tidak lagi terasa sepi seperti sebelumnya.


Titimangsa: Kediri, 24 Juni 2026


Bionarasi:

Aryasuta, karyawan swasta di Kota Kediri. Ia telah menerbitkan beberapa karyanya melalui media daring. Bukunya: Rona Elegi Gita (2019). Bisa dihubungi di instagram: @tulisajaduluya. Aktif di komunitas Area Penjelajah Sastra


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TBM Harapan Jogja: Pengembangan Literasi Lewat Praktik Menulis

Diskusi Sastra: Menilik Realita dan Imaji

Mengambil yang Dekat, Mengenal yang Jauh