Bulan Jatuh

                                 

Oleh : Rita Ameylia


Ketika bulan jatuh ke halaman rumahku, hal pertama yang kulakukan adalah mengambil ponsel.


Aku mengambil ponsel secepat kilat sebelum bulan itu naik lagi ke langit. Ini suatu kejadian langka, aku harus mendokumentasikannya. 


Bulan itu bulat, memancarkan cahaya putih keemasan. Tidak ada aroma khas yang keluar saat aku berada di dekatnya. Aku tak berani menyentuhnya, hanya mendekat dan mengambil gambar. Setelah itu aku menyebut semua keinginanku. 


Konon katanya, kalau kita berucap yang baik-baik di dekat bulan jatuh semua keinginan kita akan terwujud, meskipun itu adalah hal yang mustahil. 


Aku mengira, cerita itu hanya dongeng sebelum tidur, tapi malam ini aku menyaksikannya. Bulan turun perlahan ke halaman rumahku tanpa aba-aba. Awalnya ia melayang-layang di udara, lalu turun dengan perlahan. Semuanya tak ada yang luput dari pandanganku.


Setelah lima belas menit berada di atas keramik gompalku, bulan itu perlahan naik, lalu melesat dengan cepat ke udara. Wah… luar biasa.


Beberapa hari setelah kejadian bulan jatuh itu, siapa sangka, keinginan yang aku sebut perlahan-lahan kemarin mulai terwujud.


Mulai dari aku selalu berak setiap bangun tidur, makan jatah sarapanku tanpa harus mual dan terakhir aku bisa tidur siang satu sampai dua jam sehari. 


Sungguh kenikmatan duniawi. Sebelumnya aku susah sekali berak. Entahlah. Aku tidak terbiasa berak. Normalnya, manusia berak setiap hari, kan? Sial, tetapi aku seminggu sekali, bahkan pernah sebulan cuma dua kali. Bayangkan, betapa tidak nyamannya perutku. Semua makanan yang kumakan rasanya tidak jadi daging. 


Aku sudah mencoba berbagai cara, mulai dari yang tradisional sampai yang modern, tapi nihil. Aku mulai mencoba makan pepaya yang katanya bisa melancarkan pencernaan, sampai minum obat warung yang dibrlikan oleh ibuku, semua tidak mempan. 


Aku baru akan berak setelah makan makanan pedas. Tapi, aku tidak suka pedas, perutku akan sakit sesudah makan pedas, jadinya, aku tidak berani makan pedas lagi. Lagi pula, makanan pedas tidak baik untuk kesehatan, kan?


Lalu, untuk sarapan, biasanya aku akan mual saat makanan masuk ke mulutku di pagi hari. Tapi semenjak malam turunnya bulan, setiap pagi aku tidak merasakan mual lagi, sebaliknya, aku makan cukup banyak setiap pagi. Aku senang, sebelumnya berat badanku susah naik, tapi semenjak makan banyak, orang bilang pipiku terlihat berisi sekarang. 


Selain soal buang air besar, aku tipe orang yang sukar tidur siang. Entahlah, mataku selalu segar kalau siang. Padahal, kalau kita tidur siang, itu bisa mempercepat waktu. 


Maksudnya, kalau ditinggal tidur, waktu dengan cepat berlalu. Tahu-tahu sudah sore, padahal tadi sebelum tidur masih siang. Itu membuatku lebih semangat dalam menjalani hari.


Kalau bangun tidur di siang hari, rasanya lebih fresh, lebih plong, seperti beban yang sebelumnya kita tanggung, lenyap terbawa mimpi.


Nikmat sekali. 


Aku mulai menceritakan semua yang terjadi ke temanku. Dari ketika bulan jatuh ke halaman rumahku, hal pertama yang kulakukan adalah mengambil ponsel, sampai terwujudnya semua keinginanku. 


Temanku tidak percaya, dia tidak percaya kalau bulan bisa jatuh. 


"Mana ada bulan melayang-layang, kamu pikir ini lagunya Denny Caknan? Mabur duwur melayang-layang, terbang di atas awan, ingin melepas rindu sayang…" ucapnya dengan menirukan lagu yang sedang viral.


Aku menggeplak kepala belakangnya, "Pekok! Ini tuh, real no fake!"


"Kamu halu kali, kalau asli, mana fotonya coba?" Tanyanya meminta aku menunjukan dokumentasi bulan jatuh di halaman rumahku. 


Aku membuka ponsel, mencari foto bulan jatuh itu, tapi tidak ketemu. Foto terakhir di hpku adalah foto peyek buatan Ibu yang kuambil lima hari yang lalu. 


"Mana, nggak ada, kan? Kamu tuh kebanyakan halu," ucap temanku saat tahu aku tidak bisa menunjukan dokumentasi ketika bulan jatuh ke halaman rumahku.


"Kamu lihat pipiku!" Aku memaksanya untuk mengamati wajahku, "agak berisi, kan?"


Matanya memicing, dahinya berkerut, meyakinkanku kalau dia benar-benar sedang mengamati. 


"Kamu belum mandi ya? Ada cilok tuh di matamu," ucapnya. 


Kurang ajar!


"Nih ya, bulan jatuh tuh nggak ada, ini semua cuma haluan kamu. Perkara kebiasaan baru yang kamu dapatkan itu, itu cuma sugesti, kamu kemakan cerita jadul," katanya menjelaskan. 


Aku tetap yakin, aku yakin, malam itu yang aku foto itu bulan, bukan peyek buatan Ibu. 


Titimangsa: Jakarta, 24 Juni 2026


Bionarasi

Rita Ameylia, penulis cerpen asal Kebumen yang menjadikan tulisan sebagai ruang berbagi cerita. Instagram: @rtmeyl. Aktif di komunitas Area Penjelajah Sastra


Komentar

Postingan Populer