Lebih Senyap dari Bisikan dan Goyangan di Dalam Rumah Tangga
Oleh : Palito
Judul : Lebih Senyap dari Bisikan
Penulis : Andina Dwifatma
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Isi : 155 halaman
Tahun terbit : Juli 2026 (cetakan kedelapan)
“Di akhirat nanti, kalau aku bertemu Tuhan, akan kutanyakan kenapa Dia bikin tubuh perempuan seperti makanan kaleng. Kubayangkan di bawah pusar atau pantatku ada tulisan: Best Before: Mei 2026.”
Begitulah
sepenggal kalimat yang tertulis di bagian belakang sampul Lebih Senyap dari
Bisikan karya Andina Dwifatma.
Menariknya,
tema yang diangkat sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam tulisan tentang
perempuan. Namun, Andina membicarakannya dengan cara yang unik. Ia tidak
mendikte perempuan harus begini atau begitu, juga tidak mendramatisasi tokoh
perempuannya. Malahan, kita diajak masuk ke kepala seorang perempuan yang
memiliki banyak laci untuk membereskan permasalahan di dalam dirinya maupun
dunia di sekitarnya. Sepanjang cerita, terasa ada masa ketika perempuan masih
memiliki kebebasannya, sebelum kemudian memasuki dunia yang bernama “keluarga
kecil”, sebuah dunia yang perlahan mengubah banyak hal dalam hidupnya.
Cara
Andina membangun tokoh juga terasa sederhana, tetapi efektif. Dialog menjadi
bagian penting dalam cerita karena bukan sekadar percakapan antar tokoh,
melainkan ikut mendorong alur bergerak.
Meski
begitu, dari pembacaan saya, ada satu hal yang terasa kurang berkembang, yaitu
Baron, tokoh suami Amara. Keberadaan Baron lebih banyak hadir melalui sudut
pandang Amara. Ia diceritakan kerap menghindar selama beberapa minggu, lalu
kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Pada satu sisi, absennya Baron dari
persoalan rumah tangga membuat tokoh ini terasa kurang tergali. Namun, pada
sisi lain, hal tersebut justru bisa menjadi strategi yang berhasil. Baron hadir
melalui ketidakhadirannya: melalui sikap menghindar, ketidakpedulian, dan
kebiasaannya kembali ketika persoalan dianggap selesai.
Di
titik ini, Baron terasa seperti sentilan terhadap laki-laki di dunia nyata yang
memilih absen ketika rumah tangganya sedang berhadapan dengan masalah,
sementara perempuan tetap tinggal dan harus membereskan semuanya.
Pengalaman
saya membaca keseluruhan novel ini juga terasa dekat secara personal. Saya
sendiri hidup dan dibesarkan bersama Ibu hingga sekarang. Ketika mengikuti
cerita Amara, saya merasa seperti berada di seputaran tokoh tersebut,
menyaksikan dan memahami, meskipun tentu tidak sepenuhnya, problematika yang
dihadapinya. Kedekatan itu membuat beberapa persoalan dalam novel terasa lebih
dari sekadar cerita tentang seorang perempuan dan keluarganya; ada sesuatu yang
terasa akrab dari cara hubungan, persoalan, dan kehidupan di dalam rumah itu
bergerak.
Pada akhirnya, Lebih Senyap dari Bisikan bagi saya bukan hanya cerita tentang perempuan, tubuh, atau keluarga, tetapi juga tentang bagaimana persoalan-persoalan dalam rumah tangga dapat dibebankan secara tidak seimbang. Dengan bahasa yang sederhana dan dialog yang hidup, Andina membuat persoalan tersebut terasa dekat tanpa harus menjelaskannya secara berlebihan. Mungkin ada beberapa tokoh yang terasa belum sepenuhnya berkembang, tetapi justru dari celah-celah itu saya menemukan pembacaan lain terhadap cerita ini.
Sumber gambar : Pinterest
Bionarasi:
Palito lahir di Padang Pariaman, Sumatera Barat, 18 Oktober 2001. Ia lulus pada 2023 dari Program Studi Bimbingan Konseling, Universitas PGRI Sumatera Barat. Beberapa karyanya dapat ditemui di OmpiOmpi, Kurungbuka, Omong-Omong Media, Nyangkem, Ngewiyak, GolAgong Kreatif, Janang, Bali Politika, KBA News, Jernis.co, Ceritnet, Kalam Sastra, dan Jawa Pos.



Komentar
Posting Komentar