Hujan dan Anatomi Sebuah Simbol: Mengapa Kita Tidak Pernah Selesai Membicarakannya

 


 Oleh : Serayu G Ruhani 

Ada jawaban mudah yang sering muncul kalau ditanya "kenapa sih hujan selalu dipakai buat menggambarkan kesedihan?" jawabannya biasanya: ya karena hujan itu murung, langit mendung itu akan selalu terasa berat. Tapi, menurut saya jawaban ini keliru sedari awal, karena dia menganggap makna itu sudah menempel begitu saja secara alami pada hujan. Padahal justru, di situlah letak hal yang seru untuk kita bongkar: bagimana caranya sebuah simbol terbentuk, bertahan lama, kemudian mengeras dan membatu sehingga menjadikannya sebuah keklisean. Dan apa yang sebenarnya terjadi ketika simbol itu dipakai berulang-ulang oleh begitu banyak orang, termasuk saya sendiri, tiap kali duduk di depan layar kosong dan entah kenapa jari saya lebih dulu mengetik kata "hujan" sebelum sempat berpikir apakah itu memang yang mau saya bilang.

Titik berangkat yang paling gampang dipakai datang dari semiotika Ferdinand de Saussure. Dia membedakan penanda (bentuk fisiknya sebagai bunyi kata, atau dalam kasus ini, peristiwa hujan itu sendiri) dengan petanda (konsep yang dimaksud, seperti kesedihan, penantian, perpisahan). Yang penting dari pembedaan ini: hubungan antara keduanya itu sifatnya sembarang, alias tidak ada alasan alami kenapa air yang jatuh dari langit harus berarti duka. Hubungan itu terbentuk lewat kebiasaan budaya yang diwariskan dan terus diulang, sampai kita lupa kalau itu sebenarnya cuma kesepakatan, bukan hukum alam.

Roland Barthes maju satu langkah lagi dengan gagasan mitos dalam bukunya Mythologies. Menurutnya, tanda yang sudah memiliki makna (hujan = cuaca) bisa "dipakai lagi" menjadi sebuah penanda baru di lapisan kedua, sehingga muncul makna tambahan (hujan = sedih) yang lama-lama terasa alami, padahal itu sebenarnya hasil konstruksi budaya yang dibuat seolah-olah itu adalah hal yang wajar. Ini lah yang terjadi dengan hujan: ia sudah lewat begitu banyak lapisan pemakaian sastra dan budaya pop, sampai konotasinya terasa seperti fakta, seolah "hujan itu sedih" ya memang begitu adanya, bukan sekadar kesepakatan yang bisa dipertanyakan lagi.

Kebanyakan teori simbol Barat lahir dari masyarakat empat musim, di mana hujan adalah penanda datangnya musim gugur, musim layu, sebelum musim dingin yang lebih keras lagi. Di sana, hujan punya posisi cerita yang jelas: jeda antara musim panas yang hidup dan musim dingin yang mati. Di Indonesia, hujan bukan penanda pergantian musim yang dramatis semacam gitu. Dia datang dan pergi delapan bulan setahun, kadang setiap sore, sedatar jadwal kereta. Ini bukan detil kecil, lho, ini yang bikin logika simbolnya jadi beda total begitu dipindahkan ke sini.

T.S. Eliot, dalam esainya soal Hamlet, punya istilah objective correlative, gagasan bahwa cara paling efektif buat membangkitkan emosi tertentu dalam karya sastra itu bukan dengan nyebut nama emosinya langsung, tapi dengan menghadirkan sekumpulan objek, situasi, atau rangkaian kejadian yang jadi "rumus" buat emosi itu. Begitu rumus itu muncul, emosi yang dimaksud otomatis akan bangkit di diri pembaca.

Hujan itu salah satu objective correlative paling efisien yang pernah ditemukan tradisi sastra dunia. Penulis tidak perlu menulis "tokoh ini sedih dan sedang menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan datang," mereka cukup tulis hujan turun di jendela sementara tokohnya diam, dan pembaca akan sampai ke emosi yang sama lewat jalan yang lebih halus. Masalahnya, semakin sering sebuah objective correlative dipakai, makin hilang juga daya kejutnya sebagai "rumus", dan berubah jadi jalan pintas yang ditempuh otomatis, tanpa penulis atau pembaca benar-benar berhenti untuk merasakann

Sebagai orang yang suka menulis, saya merasakan efisiensi ini sebagai godaan yang nyaris tidak bisa ditolak, apalagi kalau lagi kejar tenggat. Menulis "dia nunggu balasan pesan yang nggak kunjung datang, sementara gerimis membasahi kaca jendela kosnya" jauh lebih cepat ditulis, dan jauh lebih cepat memberikan tembakan secara emosional di mata pembaca, dibanding harus gali detil yang benar-benar spesifik dari pengalaman menunggu itu sendiri. Hujan, dalam praktik menulis sehari-hari, sering jadi semacam bumbu instan: membikin adegan biasa terasa "sastrawi" tanpa penulis perlu kerja lebih keras mencari citra yang lebih jujur. Saya curiga banyak penulis, termasuk saya di masa lalu menggunakan hujan bukan karena hujan itu benar-benar ada di ingatan atau pengalaman yang lagi ditulis, tapi karena hujan adalah jalan tercepat menuju efek yang diinginkan.

Dari sisi lain, psikologi analitis Carl Jung menawarkan penjelasan mengapa simbol seperti hujan terasa begitu universal terasa lintas budaya: gagasan arketipe, pola-pola simbolik yang dianggap sudah tertanam dalam collective unconscious manusia. Air, dalam banyak tradisi yang dipetakan Jung dan pengikutnya seperti Northrop Frye, cenderung diasosiasikan dengan siklus hidup-mati, pembersihan, dan transisi dari satu keadaan ke keadaan lain. Frye sendiri, dalam bukunya Anatomy of Criticism, memetakan hujan dan air sebagai bagian dari citra musiman yang berulang dalam mitos: musim gugur dan hujan cenderung ditautkan dengan narasi kejatuhan, kehilangan, dan elegi.

Pendekatan arketipal ini menjelaskan kenapa hujan-sebagai-kesedihan nggak cuma milik satu tradisi sastra, tapi muncul berulang di banyak budaya yang bahkan tidak pernah saling bertemu. Pendekatan ini juga memiliki kelemahan yang sama seperti apa yang dikatakan Barthes: hujan bisa digunakan sebagai cara membenarkan penggunaan simbol tanpa usaha, seolah karena arketipenya memang begitu, jadi pemakaiannya otomatis sah — padahal keabsahan arketipal tidak selalu menjamin kesegaran artistik.

Menariknya, tradisi sastra Indonesia sendiri punya cara yang lebih khas dalam memandang air dan hujan, yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan lewat arketipe universal ala Jung. Dalam banyak kepercayaan Nusantara, dari tradisi Jawa sampai berbagai masyarakat agraris di kepulauan ini, hujan lebih dulu adalah simbol kesuburan dan berkah, sebelum dipinjam sastra modern jadi simbol duka. Petani menantikan hujan sebagai anugerah, bukan ancaman. Ada ketegangan menarik di sini: sastra Indonesia modern, terutama sejak paruh kedua abad ke-20, justru menyerap kebiasaan hujan-sebagai-kesedihan yang lebih dekat ke sensibilitas romantik Eropa, ketimbang meneruskan asosiasi hujan-sebagai-berkah yang lebih dulu ada dalam kosmologi lokal. Sapardi Djoko Damono, dengan puisi-puisinya soal hujan bulan Juni yang begitu dikenal luas, mungkin justru menjadi titik bertemunya dua tradisi ini: hujan yang datang di luar musimnya (Juni kan bulan kemarau di sebagian besar Indonesia) jadi simbol yang sekaligus asing dan intim, curah yang dirindukan sekaligus curah yang menahan diri.

Di sinilah kritik soal kliseisme hujan bertemu pijakan teoretisnya yang paling tajam, lewat konsep ostranenie (defamiliarisasi, atau "bikin asing lagi") dari Viktor Shklovsky dan kaum Formalis Rusia. Menurut Shklovsky, fungsi utama seni itu membuat yang sudah dikenal menjadi terasa asing kembali supaya persepsi manusia yang sudah "mati rasa" karena kebiasaan, bisa dihidupkan lagi. Persepsi otomatis ketika melihat sesuatu tanpa benar-benar melihatnya karena sudah kelewat sering adalah musuh utama seni, dan bahasa klise salah satu wujud paling jelas dari persepsi otomatis itu.

Simbol yang awalnya lahir dari pengamatan segar, lama-lama, lewat pengulangan tanpa henti oleh banyak penulis, berubah jadi yang oleh sebagian kritikus disebut dead metaphor — metafora yang sudah kehilangan ketegangan dan kejutannya, digunakan secara reflektif seperti kata-kata biasa, sehingga bukan lagi menjadi pilihan artistik yang sengaja diambil.

Saya sendiri, sebagai pembaca, sering menemukan diri saya melewatkan kalimat yang ada kata "hujan"-nya di awal cerpen atau puisi yang saya temukan di internet, bukan karena saya anti-hujan, tapi karena pengalaman baca seyogyanya mengajarkan saya untuk berharap sedikit dari kalimat semacam itu. Ini bentuk capek yang cukup spesifik: bukan bosan dengan hujan sebagai fenomena, tapi bosan dengan kepastian ke mana kalimat itu bakal berlabuh begitu kata itu muncul.

Ada satu pembedaan klasik dari Samuel Taylor Coleridge yang berguna untuk memisahkan hujan yang "hidup" dari hujan yang hanya "kostum". Coleridge membedakan simbol dari alegori: alegori itu penerjemahan satu-lawan-satu yang bisa dibongkar-pasang (hujan = sedih, titik, selesai, bisa diganti simbol lain tanpa kehilangan apa-apa), sementara simbol sejati ikut ambil bagian dalam kenyataan yang dia wakili dan tidak bisa diterjemahkan atau digantikan sepenuhnya tanpa kehilangan sesuatu yang esensial, karena maknanya sudah menyatu dengan bentuk konkretnya, bukan hanya menempel di atasnya.

Hujan yang klise adalah hujan yang sudah jatuh ke level alegori: fungsinya akan sekadar menandakan "adegan sedih", yang akan bisa ditukar dengan simbol generik apa pun tanpa banyak berubah. Hujan yang hidup adalah hujan yang nggak bisa dilepas dari detail konkretnya.

Dalam praktik menulis saya sendiri, saya menemukan satu tes sederhana untuk memisahkan dua hal itu (bukan teori formal, tapi lahir dari kebiasaan ngedit tulisan sendiri) : yaitu mencoba mengganti kata "hujan" dengan fenomena lain, misalnya mati lampu, atau angin kencang yang nerbangin jemuran. Jika kalimatnya tetap "jalan" secara emosional setelah diganti, artinya hujan di kalimat itu nggak pernah benar-benar hujan, dia cuma slot kosong yang kebetulan diisi kata paling populer. Tapi kalau kalimatnya runtuh atau kehilangan sesuatu yang penting setelah kata "hujan" diganti, itu tanda jika hujan di kalimat tersebut sudah menyatu dengan detil yang spesifik: hujan jam berapa, hujan yang bikin siapa kejebak di mana, hujan yang baunya kayak apa. Semakin bertahan kalimat itu terhadap penggantian, semakin layak dia disebut simbol, bukan alegori kosong.

Julia Kristeva, lewat gagasan intertekstualitas yang dia kembangkan dari pemikiran Mikhail Bakhtin, mengingatkan saya bahwa tidak ada teks yang lahir dari ruang kosong. Setiap teks baru selalu menyerap dan mengangdung teks-teks yang lahir sebelumnya. Ini menjelaskan kenapa setiap kali seseorang menulis soal hujan hari ini, tulisan itu sebenarnya terasa seperti sedang "ngobrol" (sadar atau tidak) dengan seluruh tumpukan puisi, lagu, dan cerita soal hujan yang sudah pernah ada sebelumnya.

Di Indonesia, beban intertekstual ini kerasa berlapis-lapis dengan cara yang khas: penulis muda yang nulis soal hujan hari ini kemungkinan besar lagi bergema dengan gema puisi Sapardi yang ia baca, gema lirik-lirik lagu pop dan band indie yang memenuhi playlist generasinya, dan gema ribuan status media sosial yang sudah lebih dulu pakai citra serupa. Ini bikin posisi penulis Indonesia hari ini, kalau mau nulis soal hujan, jauh lebih terjepit dibanding penulis dari tradisi yang belum "jenuh" simbolnya seperti ini. Menulis hujan di Indonesia hari ini nyaris mustahil dilakukan tanpa, menanggapi seluruh warisan tersebut.

Jadi, Simbol Ini Udah Habis, atau Belum?

Membaca hujan lewat kerangka-kerangka ini nunjukin jika pertanyaan "kenapa hujan begitu sering dipakai" dan "kenapa pemakaiannya terasa klise" itu sebenarnya berangkat dari dua sisi fenomena yang sama: efisiensi sebuah tanda sebagai objective correlative dan bebannya sebagai warisan intertekstual berjalan beriringan bersama dengan risiko dia jatuh jadi dead metaphor lewat pengulangan yang sudah tidak disertai kesadaran — dan di Indonesia, proses itu berjalan lebih cepat karena iklim yang membikin hujan kelewat akrab untuk kerasa istimewa, dan karena budaya nulis daring yang mempercepat sirkulasi sebuah citra dari segar jadi usang.

Tapi teori-teori ini juga menawarkan jalan keluar yang jelas, bukan cuma diagnosis, dan sebagai penulis saya mencoba memegang teguh itu sebagai pengingat praktis, bukan sekadar wacana. Kalau kliseisme itu menyoal persepsi otomatis (Shklovsky), obatnya ya defamiliarisasi — menaruh detil spesifik yang akan memaksa pembaca melihat hujan itu lagi, bukan melewatinya sebagai kode yang sudah dikenal. Kalau masalahnya jatuh ke level alegori (Coleridge), jalan keluarnya adalah membikin hujan menyatu dengan pengalaman konkret yang unik. Dan kalau bebannya soal warisan intertekstual (Kristeva), penulis yang sadar justru bisa menggunakan beban itu dengan sengaja, menulis hujan yang tahu dirinya sendiri simbol usang, dan jadiin kesadaran itu sendiri sebagai bagian dari makna baru yang ditawarkan.

Saya sendiri belum sepenuhnya berhasil melakukan itu setiap kali saya menulis. Ada saat-saat di mana saya masih membiarkan hujan turun di paragraf pembuka hanya karena itu jalan paling mudah. Tapi setidaknya sekarang saya tahu kapan saya akan menggunakannya, dan itu, kesadaran soal jalan pintas yang saya ambil ini, mungkin adalah langkah pertama sebelum jalan pintas itu bisa diganti dengan sesuatu yang lebih jujur. Simbol tidak pernah benar-benar habis. Yang habis hanya cara-cara lama menggunakanya tanpa berpikir ulang, dan mungkin, di sana lah kesediaan kita untuk berhenti sejenak sebelum nulisnya lagi.


Sumber foto : Pinterest


Komentar

Postingan Populer